BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan sosial remaja semakin meningkat dengan diikuti perubahan tata cara dalam berbahasa. Perhatian remaja mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Perkembangan sosial remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi keluarga, kematangan anak, dan sebagainya.
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia anak, kondisi keluarga, tingkat kecerdasan, dan sebagainya.
Perkembangan sosial dan bahasa remaja memberikan dampak positif maupun negatif. Seperti halnya pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai tingkat sosial keluarganya.
Dari uraian diatas kami tertarik untuk membahas tentang pekembangan bahasa dan sosial pada remaja, yang kemudian kami rangkum dalam bentuk makalah ini.
B. Batasan Masalah
Makalah ini hanya mengkaji pokok bahasan tentang perkembangan bahasa dan social remaja, yang dititik beratkan pada aspek “Remaja dengan sosial dan bahasa”.
C. Rumusan masalah
Fokus dalam penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan:
1. Aspek perkembangan sosial remaja.
2. Metode pengembanagn aspek sosial.
3. Aspek perkembangan bahasa.
4. Perbedaan-perbedaan penggunaan bahasa dalam proses pembelajaran, beserta contoh-contohnya.
D. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini :
1. Untuk mengetahui berbagai bentuk perkembangan remaja terutama perkembangan sosial dan bahasa, serta perbedaan penggunaan bahasa dalam proses pembelajaran
2. Untuk memahami perkembangan sosial dan bahasa pada remaja.
3. Untuk mengembangkan aspek – aspek sosial dan bahasa pada remaja serta dapat menerapkannya di masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Sosial Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
1. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa, pada jenjang ini kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaiannya terhadap lingkungan, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan yang berbeda dengan norma-norma yang berlaku sebelumnya didalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lngkungan, tidak hanya bergaul dengan kelompok seumuran saja. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesame remaja lawan jenis dirasakan paling penting tetapi cukup sulit, karena disamping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja,tetapi juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup. Pada perkembangannya,
- Kehidupan remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emodional
- Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya.
- Menurut “Erick Ericson”, bahwa masa remaja terjadi masa krisis, masa pencarian jati diri.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan dan kemampuan mental terutama emosi dan intelegensi.
a. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga dengan demikian pada dasarnyakeluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.Proses pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkankepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan dalam keluaga.
b. Kematangan Anak
Dalam bersosialisasi seseorang memerlukan kematanganfisik dan psikis.Sedangkan untuk mampu memberikan pendapat serta menerima pendapat orang lain,seseorang memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping kemampun berbahasa juga menentkan. Dengan demikian untuk mampu bersosialisasi dengan baikdipelukan kematangan fisik, sehingga setiap orang mampu menjalankan fungsinya dengan baik dalam bersosialisasi.
c. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosialbanyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat akan memandang anak bukan sebagai anak yang independen, tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
Dari pihak anak itu sendiri, dalam berperilaku akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan hal itu, dalam kehidupan bersosialisasi anak akan senantiasa menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
d. Pedidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif akan memberikan warna kehidupan sosial anak didalam bermasyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat dan kelompok. Penanaman norma perilaku yang benar diberikan kepada peserta didik yang belajar dalam pendidikan(sekolah). Peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan berbangsa dan norma kehidupan antarbangsa.
e. Kapasitas Mental, Emosi, dan Integensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik, oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak .
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
3. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori – teori yang menyebabkan siakp kritis terhadap situasi dan orang lain.Pengaruh egosentris sering terlihat pada pemikiran remaja, yaitu :
a) Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pada pemikiran sendiri tanpa memikirkan akibat jauh dan kesulitan-kesuliatn praktisnya.
b) Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain,merupakan pencerminan sifat egois dalam menghadapi pendapat orang lain.Maka semakin kecil sifat egoisme sehingga dapat terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik dan matang.
4. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial
Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan teori komprehensif yang dikemukakan oleh Erickson yang menyatakan bahwa manusia hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam. .
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola yang sesuai dengan kepribadiannya.
Sesuai dengan teori komprehensif yang dikemukakan oleh Erickson yang menyatakan bahwa manusia hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam. .
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola yang sesuai dengan kepribadiannya.
5. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
a) Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang kepada mereka ke arah perilaku yang bermanfaat.
b) Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti,bakti karya dan kelompok-kelompok belajar untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat .
B. Aspek-Aspek Sosial Remaja
Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Ketrampilan tersebut harus mulai dikembangkan sejak masih anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup buat anak-anak untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman sebaya, memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai perkembangan anak, dsb. Dengan mengembangkan ketrampilan tersebut sejak dini maka akan memudahkan anak dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat.
Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting dan krusial manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dan sebagainya
Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka sangatlah penting bagi remaja untuk dapat mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan. .
Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir adalah memiliki ketrampilan sosial (sosial skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Ketrampilan-ketrampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial (social skills) yaitu:
1. keluarga
2. lingkungan
3. kepribadian
4. rekreasi
5. pergaulan dengan lawan jenis .
6. pendidikan/sekolah
7. persahabatan dan solidaritas kelompok .
8. l apangan kerja .
Dalam pengembangan aspek psikososial remaja, maka delapan aspek yang menuntut ketrampilan sosial remaja harus dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kondisi yang kondusif. Di bawah ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna bagi pengembangan aspek psikososial remaja:
1. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home dimana anak tidak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup maka anak akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari: ;
• kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding)
• kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orangtua dan saudara
• kurang mampu berkomunikasi secara sehat
• kurang mampu mandiri
• kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara
• kurang mampu bekerjasama
• kurang mampu mengadakan hubungan yang baik
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas maka sangatlah penting bagi orangtua untuk menjaga agar keluarga tetap harmonis. Kehramonisan dalam hal ini tidaklah selalu identik dengan adanya orangtua utuh (Ayah dan Ibu), sebab dalam banyak kasus orangtua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan oleh orangtua adalah menciptakan suasana yang demokratis di dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua maka segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya komunikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, dsb. hanya akan memunculkan berbagai konflik yang berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional, sehingga dapat menyebabkan hubungan sosial antara satu sama lain menjadi rusak.
2. Lingkungan
Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga), lingkungan juga meliputi lingkungan keluarga (keluarga primer & sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat luas. Dengan pengenalan lingkungan maka sejak dini anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orangtua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
3. Kepribadian
Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Disinilah pentingnya orangtua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik seperti materi atau penampilan.
4. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi seseorang akan merasa mendapat kesegaran baik fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capai, bosan, monoton serta mendapatkan semangat baru.
5. Pergaulan dengan Lawan Jenis
Untuk dapat menjalankan peran menurut jenis kelamin, maka anak dan remaja seyogyanya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga maupun berkeluarga.
6. Pendidikan
Pada dasarkan sekolah mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak. Salah satu ketrampilan tersebut adalah keterampilan-keterampilan sosial yang dikaitkan dengan cara-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hal ini peran orangtua adalah menjaga agar ketrampilan-ketrampilan tersebut tetap dimiliki oleh anak atau remaja dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembangannya.
7. Persahabatan dan Solidaritas Kelompok
Pada masa remaja peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Seringkali remaja bahkan lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarganya. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal ini orangtua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.
Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting dan krusial manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dan sebagainya
Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka sangatlah penting bagi remaja untuk dapat mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan. .
Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir adalah memiliki ketrampilan sosial (sosial skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Ketrampilan-ketrampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial (social skills) yaitu:
1. keluarga
2. lingkungan
3. kepribadian
4. rekreasi
5. pergaulan dengan lawan jenis .
6. pendidikan/sekolah
7. persahabatan dan solidaritas kelompok .
8. l apangan kerja .
Dalam pengembangan aspek psikososial remaja, maka delapan aspek yang menuntut ketrampilan sosial remaja harus dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kondisi yang kondusif. Di bawah ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna bagi pengembangan aspek psikososial remaja:
1. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home dimana anak tidak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup maka anak akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari: ;
• kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding)
• kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orangtua dan saudara
• kurang mampu berkomunikasi secara sehat
• kurang mampu mandiri
• kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara
• kurang mampu bekerjasama
• kurang mampu mengadakan hubungan yang baik
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas maka sangatlah penting bagi orangtua untuk menjaga agar keluarga tetap harmonis. Kehramonisan dalam hal ini tidaklah selalu identik dengan adanya orangtua utuh (Ayah dan Ibu), sebab dalam banyak kasus orangtua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan oleh orangtua adalah menciptakan suasana yang demokratis di dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua maka segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya komunikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, dsb. hanya akan memunculkan berbagai konflik yang berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional, sehingga dapat menyebabkan hubungan sosial antara satu sama lain menjadi rusak.
2. Lingkungan
Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga), lingkungan juga meliputi lingkungan keluarga (keluarga primer & sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat luas. Dengan pengenalan lingkungan maka sejak dini anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orangtua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
3. Kepribadian
Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Disinilah pentingnya orangtua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik seperti materi atau penampilan.
4. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi seseorang akan merasa mendapat kesegaran baik fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capai, bosan, monoton serta mendapatkan semangat baru.
5. Pergaulan dengan Lawan Jenis
Untuk dapat menjalankan peran menurut jenis kelamin, maka anak dan remaja seyogyanya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga maupun berkeluarga.
6. Pendidikan
Pada dasarkan sekolah mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak. Salah satu ketrampilan tersebut adalah keterampilan-keterampilan sosial yang dikaitkan dengan cara-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hal ini peran orangtua adalah menjaga agar ketrampilan-ketrampilan tersebut tetap dimiliki oleh anak atau remaja dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembangannya.
7. Persahabatan dan Solidaritas Kelompok
Pada masa remaja peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Seringkali remaja bahkan lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarganya. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal ini orangtua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.
8. LapanganKerja
Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran disekolah mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SMA/SMK mereka mendapat bimbingan karier untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan kerja dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang dibutuhkan maka remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi akan dapat menyiapkan untuk bekerja.
9. Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri.
Untuk membantu tumbuhnya kemampuan penyesuaian diri, maka sejak awal anak diajarkan untuk lebih memahami dirinya sendiri (kelebihan dan kekurangannya) agar ia mampu mengendalikan dirinya sehingga dapat bereaksi secara wajar dan normatif. Agar anak dan remaja mudah menyesuaikanan diri dengan kelompok, maka tugas orang tua/pendidik adalah membekali diri anak dengan membiasakannya untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dsb. Dengan cara ini, remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan balik dari orang lain/kelompok, mudah membaur dalam kelompok dan memiliki solidaritas yang tinggi sehingga mudah diterima oleh orang lain/kelompok.
Selain itu anak harus diajarkan sejak dini untuk dapat memilih prioritas tugas-tugas yang harus segera diatasi, bukan menunda atau mengalihkan perhatian pada tugas yang lain. Karena itu sejak awal sebaiknya orang tua atau pendidik telah memberikan bekal agar anak dapat memilih mana yang penting dan mana yang kurang penting melalui pendidikan disiplin, tata tertib dan etika
Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran disekolah mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SMA/SMK mereka mendapat bimbingan karier untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan kerja dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang dibutuhkan maka remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi akan dapat menyiapkan untuk bekerja.
9. Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri.
Untuk membantu tumbuhnya kemampuan penyesuaian diri, maka sejak awal anak diajarkan untuk lebih memahami dirinya sendiri (kelebihan dan kekurangannya) agar ia mampu mengendalikan dirinya sehingga dapat bereaksi secara wajar dan normatif. Agar anak dan remaja mudah menyesuaikanan diri dengan kelompok, maka tugas orang tua/pendidik adalah membekali diri anak dengan membiasakannya untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dsb. Dengan cara ini, remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan balik dari orang lain/kelompok, mudah membaur dalam kelompok dan memiliki solidaritas yang tinggi sehingga mudah diterima oleh orang lain/kelompok.
Selain itu anak harus diajarkan sejak dini untuk dapat memilih prioritas tugas-tugas yang harus segera diatasi, bukan menunda atau mengalihkan perhatian pada tugas yang lain. Karena itu sejak awal sebaiknya orang tua atau pendidik telah memberikan bekal agar anak dapat memilih mana yang penting dan mana yang kurang penting melalui pendidikan disiplin, tata tertib dan etika
C. Perkembangan Bahasa
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik secara lisan, tulis, maupun menggunakan tanda-tanda atau isyarat.
Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu sebagai berikut:
1. Egocentric Speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog).
2. Sociolized Speech, yang terjadi ketika berlangsung kontak antaranak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi ke dalam lima bentuk: (a) adapted information, di sini terjadi saling tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari, (b) critism, yang menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain, (c) command (perintah), request (permintaan) dan threat (ancaman), (d) questions (pertanyaan), dan (e) answers (jawaban).
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Ia telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu.
Lingkungan sekolah dan masyarakat mempengaruhi perkembangan bahasa remaja, terutama pada perilaku dan ciri khas berbahasa. Lembaga pendidikan memberi rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar (merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa). Pengaruh pergaulan di masyarakat (teman sebaya) terkandung cukup menonjol, sehingga bahasa remaja menjadi lebih diwarnai oleh pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya.
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, menyebabkan perbedaan antara remaja yang satu dengan remaja lainnya.remaja dari masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi lebih baik, akan menggunakan kosakata yang lebih selektif.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Ada beberapa factor yang mempengaruhi perkembagan bahasa yaitu:
a. Umur Anak
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh umur, bertambahnya umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual remaja sehingga mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.
b. Kondisi Lingkungan
Dari lingkungan yang berbeda perkembangan bahasanya pun berbeda. Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan pergaulan yang berbentuk kelompok-kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan kelompok sosial yang lain.
c. Kecerdasan
Kemampuan motorik (kecerdasan) seseorang berhubungan positif dengan kemampuan intelektual atau tingkat berfikir. Kemampuan berfikir amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seorang remaja. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat inteligensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya memiliki inteligensi normal atau di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan sebagai anak yang bodoh (Lindgren, dalam E. Hurlock, 1991).
d. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Status sosial keluarga juga mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Anak yang hidup di keluarga terdidik, perkembangan bahasanya sangat baik, sebaliknya anak yang hidup di keluarga bersosial ekonomi rendah perkembangan bahasanya kurang baik. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orangtua yang mengajar, melatih, dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan kasih yang sehat antara orangtua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuannya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya sehingga mengalami stagnasi atau kelainan.
e. Kondisi Fisik/Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila anak pada usia dua tahun pertama, mengalami sakit terus-menerus, maka anak tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya.
Upaya yang dapat ditempuh dengan cara memberi ASI, makanan bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak atau secara reguler memeriksakan anak ke dokter atau ke puskesmas.
4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan Berfikir
Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya, akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis sehingga sulit berkomunikasi. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan berbahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa.
5. Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa Anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan bahasa yang tinggi. Sebaran nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan variasi kemampuan mereka berfikir. Remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.
6. Upaya Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Kelas atau kelompok belajar pada dasarnya terdiri dari individu yang bervariasi bahasanya, baik kemampuannya maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan strategi belajar mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak.
Pertama, anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun oleh siswa sendiri. Dengan demikian guru dapat identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa siswa-siswanya.
Kedua, berdasar hasil identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa siswa dengan menambahkan perbendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Sehingga para siswa mampu menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tulis, dengan mendasarkan bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa masing-masing.
Bahasa menjadi efektif sejak seseorang memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak bayi mulai bisa berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang (bayi-anak) dimulai dengan mereba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.
Anak Indonesia wajib mengembangkan kemampuan dwi-/multibahasawan. Setelah menguasai bahasa daerah yang menjadi bahasa ibunya, ia masih perlu belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, dan kemudian bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama dan utama di negara kita. Kecuali di wilayah tertentu di mana bahasa Indonesia dipergunakan dalam keluarga, pembelajaran bahasa Indonesia biasanya berawal di kelas formal di Sekolah Dasar. Dalam hal ini, pada umumnya ia men¬dapat banyak pajakan dari penggunaan bahasa resmi itu di masya¬rakat, yakni di sekolah, di kantor, di media cetak dan di medium layar kaca.
Bahasa yang di gunakan sebagai bahasa pembelajaran sebagaimana tertera Pada UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pengantar Pendidikan Nasional BAB VII yang berbbunyi:
Bahasa pengantarPasal 33 sebagai berikut:
· Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.
· Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikana pabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu.
· Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.
Dalam pengaplikasiannya kita dapat melihat pada pelaksanaan pendidikan di usia dini, TK , SD hingga perguruan tinggi.
Pada saat anak masih berada dalam lingkup pendidikan usia dini, pendidik masih banyak menggunakan bahasa dan istilah kedaerahan atau dalam hal ini bahasa ibu untuk mempermudah pemahaman si anak. Perkembangan bahasa anak, misalnya, dimungkinkan karena anak secara aktif membuat “hipotesa” berdasarkan pengalamannya, yang kemudian memacunya untuk membuat kons¬truksi baru ketika ia mengembangkan kemampuan kebahasaannya. Di sisi lain, anak juga belajar memahami konteks budaya masya¬rakatnya melalui penguasaan bahasa ibunya (Kress, 1976: xix-xxi).
Sedangkan ketika si anak mulai memasuki pendidikan TK, mereka mulai mendapatkan porsi perbendaharaan kata bahasa nasional lebih banyak. Karena disini mulai ada perkembangan pada pola pikir si anak untuk memulai pendidikan yang lebih formal. hal ini di lakukan untuk memulai jenjang formal di sekolah dasar.
Ketika mencapai usia sekolah dasar, si anak mulai belajar dengan bahasa nasional seutuhnya dan mulai di beri dasar-dasar pengembangan bahasa asing dan pemakaian istilah asing. Hal ini bertujuan agar ketika di jenjang berikutnya, peserta didik tidak kesulitan dalam berkomunikasi dan menerima pembelajaran.
Di jenjang SMP dan SMA, peserta didik muulai memakai pemahaman materi dengan bahasa yang lebih lugas dan penggunaan istilah-istilah yang baru. Hal ini membuat belajar bisa lebih efektif. Namun di jenjang SMA, peserta didik mulai belajar agar bisa berkomunikasi dengan efektif. Dalam membangun komunikasi yang efektif atau sering disebut komunikatif
Endang Lestari G dan M. A. Maliki memberikan lima aspek :
1. Kejelasan(Clarity), Bahasa maupun informasi yang disampaikan harus jelas.
2. Ketepatan(Accuracy), Bahasa maupun informasi yang disampaikan harus
akurat atau tepat.
3. Konteks(Contex), Bahasa maupun informasi yang disampaikan harus sesuai
dengan keadaan dan lingkungan di mana komunikasi itu terjadi.
4. Alur(Flow), Keruntutan alur bahasa dan informasi akan sangat berarti dalam
menjalin komunikasi yang efektif.
5. Budaya(Culture), Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi,
tetapi juga tata krama dan etika.
Selain itu, peserta didik juga mulai di tuntut untuk bisa berkomunikasi secara respektif. Komunikasi respektif adalah komunikasi yang saling menghargai antar pelaku komunikasi. Langkah awal untuk membangun komunikasi respektif ini adalah upaya meningkatkan integritas diri atau kepercayaan orang lain terhadap diri sendiri. Integritas artinya kualitas untuk dapat dipercaya (the quality of being trust). Respek terhadap keberadaan orang lain adalah nilai mutlak untuk menjalin hubungan timbal balik antar perorangan (interpersonal interaction) yangmutualistik atau saling menguntungkan. Perbaikan hubungan timbal balik antar perorangan juga akan memberi kemudahan komunikasi antar individu yang berbeda budaya dengan meningkatkan penghargaan/kepercayaan, toleransi, dan jawaban yang berbeda. Implementasinya dalam dunia pendidikan adalah perlunya integritas, respektif, memberikan penghargaan, kepercayaan, toleransi dari setiap komunikasi yang dilakukan oleh peserta didik. Selama ini dalam pendidikan komunikasi yang harus diperhatikan adalah dari pendidik, tetapi kadangfeedback dari peserta didik kurang
Jadi, di jenjang ini peserta didik mulai belajar penggunaan bahasa yang tidak hanya berkaitan dengan keilmuan ataupun cara berkomunikasi saja, tetapi juga belajar untuk menempatkan diri dengan bahasa.
Selain pada lingkup formal, peserta didik juga belajar dengan media komunikasi seperti media cetak dan penyiaran.
Pada era sekarang, guru di sekolah bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa didik. Seiring dengan membanjirnya arus informasi yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu, kapan dan di mana pun seorang siswa bisa mendapatkan informasi dari berbagai media. Melalui surat kabar, misalnya, seorang siswa mampu memperoleh setumpuk informasi hangat dan aktual tanpa harus menguras energi, waktu, dan biaya untuk melacak sumber berita pertama.
Ragam bahasa media sangat berbeda dengan ragam bahsa dalam buku teks yang cenderung kaku dan monoton. Dengan ragam bahasa jurnalistik yang lebih lincah, ringan, dan menghibur, Meskipun demikian, bukan berarti ragam bahasa media dalam perspektif pembelajaran bahasa hadir tanpa cacat. Banyaknya gejala deviasi yang muncul dalam judul berita, penggunaan tanda baca, diksi, struktur kalimat, penataan paragraf, pemenggalan suku kata, atau penggunaan konjungsi bisa menimbulkan masalah tersendiri bagi guru dalam proses pembelajaran di kelas. Tentu itu membuat mendapatkan contoh-contoh konstruksi bahasa yang secara substansial dianggap bertentangan dengan apa yang telah disajikan guru di kelas. Dalam kondisi demikian, dibutuhkan kearifan dan kepekaan insan pers untuk mengemas informasi melalui penggunaan bahasa yang terpelihara dengan baik, tanpa harus meninggalkan kadiah-kaidah bahasa. Selain itu, media diharapkan juga mampu menjadi media yang mencerahkan dan mencerdaskan publik; lincah memburu berita dan santun mengemas bahasa.
BAB III
KESIMPULAN
Simpulan
Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena harus memperhatikan pergaulan sesama remaja.
Perkembangan bahasa terkait dengan kognitif, yang berarti faktor intelek sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Ditunjukkan oleh pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya, baik itu dari keluarga dan masyarakat berpendidikan rendah atau buta huruf, atau dari yang memiliki status sosial yang lebih baik dan masyarakat terdidik.
Pada pelaksanaan pembelajaran,dapat di gunakan bahasa daerah, nasional dan bahasa International.Dalam pengaplikasiannya kita dapat melihat pada jenjang pendidikan dasar dan formal mulai dari Play Group dan TK yang menggunakan kolaborasi bahasa daerah/bahasa ibu dengan bahasa nasional.Pada sekolah dasar dan menengah mulai di gunakan bahasa baku untuk penerapan komunikasi efektif dan respektif.
Selain bahasa di lingkungan formal,bahasa media juga digunakan dalam proses pembelajaran, seperti media cetak dan media komunikasi.Namun dalam media pers tersebut sering terjadi penyimpangan gaya bahasa sehingga perlu suatu perhatian lebih dari insane pers dan pendidik untuk membantu menyeleksi bahasa yang baik dan benar untuk proses pembelajaran.
Saran
Ø Hendaknya para remaja mampu mamahami makna dan karakteristik perkembangan sosial remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi dan pengaruh terhadap tingkah laku, serta mengupayakan pengembangan hubungan sosial remaja serta mengimplikasikannya.
Ø Hendaknya remaja mampu memahami makna dan karakteristik perkembangan bahasa remaja, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta mengupayakannya dan mengiimplikasikannya.
Ø Hendaknya pendidik dalam proses mengajar menggunakan bahasa yang mudah dipahami peserta didik, sehingga peserta didik tidak merasa kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan
Ø Hendaknya pendidik juga menuntun para peserta didik dalam mengembangkan jiwa social dalam diri peserta didik sehingga peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan dengan lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Pembina Mata Kuliah PPD. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang: Dikti bekerjasama dengan HEDS-JICA.
Sunarto, dan B. Agung Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta.
http://rizza-af-guruindo.blogspot.com/2010/07/mengembangkan-keterampilan-sosial-pada.html
http://indahparas-uinbi-2.blogspot.com/2008/03/aspek-perkembangan-remaja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar